Entah siapa yang menemukanmu..
Aku juga tak mencarimu..
Begitu juga kamu yang tidak pernah mencari aku..
Mungkin waktu..
Atau mungkin takdir Tuhan?
(menghela nafas)
Aku tidak pernah peduli tentang hal itu..
Aku juga tidak pernah mengerti..
Bahkan pikiranku sulit untuk mencernanya..
Yang aku tau hanya kamu dan aku..
Iya kita..
Dan Aku mengenalmu..
Dalam pikiranku selalu ada bayanganmu..
Bayangan senyummu..
Bayangan matamu..
Bayangan wajahmu..
Bayangan canda tawamu..
Dan mungkin pikiranku yang sedang bermasalah..
Inginku tahu namamu..
Duduk bersamamu
Berbicara denganmu..
Bercanda denganmu..
Menghabiskan waktu denganmu..
Dan aku mulai mengenalmu..
Aku tak pernah ingin tahu apa yang aku rasa..
Semuanya berbeda..
Semuanya seperti ingin tapi tak pernah tahu..
Hingga saatnya aku mengerti..
Bahwa kamu sangatlah berarti..
Dan hanya satu yang membuatku sedikit tak mengerti..
Tentang pikiranku?
Atau Perasaanku?
Mungkin kamu adalah seseorang yang sangat aku kagumi..
Seseorang yang sengaja dikirimkan Tuhan untuk mengisi hati.
Sedangkan aku?
Aku hanya seseorang yang sangat mengagumimu disini..
Aku pun juga tak Mengerti..
Karna aku hanya menyampaikan kata hati..
Dan aku mulai mengenalmu..
Senang bertemu denganmu..
Sabtu, 02 Februari 2013
Dan aku mulai mengenalmu..
Jumat, 28 Oktober 2011
Cinta?
Cinta?
Siapa yang sanggup mencintaiku?
Waktu telah melumat habis perasaanku.
tiada lagi tenaga untuk aku membuka hati.
Terkadang aku seperti orang tuli yang berdansa-dansa.
Tanpa arah dan tujuan yang tak jelas kemana arahnya.
Terkadang aku seperti mencuri-curi pandang ke orang buta.
Serba salah, memang serba salah
yang benar cuma ketakutan dan hanya ada ketakutan.
Mungkin aku hancur.
mungkin aku lemah.
atau mungkin aku tidak mungkin?
atau aku memang benar-benar tidak benar?
Apa aku tidak kuat?
atau aku hanya menolak berbagai hal yang menguatkan?
Aku ingin bertanya, tetapi aku takut dipertanyakan.
Aku ingin menjawab, tetapi aku tak mau bertanggung jawab.
Gundah ku selalu menyelimuti kalbu hati.
Sesak dan sesak rasanya.
Apa aku cinta?
Apa cinta itu aku?
Tetapi, cinta itu apa?
Sabtu, 15 Oktober 2011
Aku adalah Senja
Kuterima karmamu dengan.......
Sahabat
Dia sungguh lukiskan warna baru pada langitku, hingga kini tak lagi biru..
Kini habis sudah, hari kulumat bersamanya, menuai cerita, menukar tawa..
Cintaku sedang meraja sahabat. Aku jatuh cinta..
Sabtu, 08 Oktober 2011
Ruang Rindu
Mengalir lembut
Terbawa sungai ke ujung mata
Dan aku mulai takut
Terbawa cinta
...
Menghirup rindu yang sesakkan dada
Mas-mas Letto memang keren bikin lagunya. Membawa kita menelusuri rangkaian memori-memori yang pernah ‘mengalir lembut’ mewarnai langkah-langkah kita.
Ngomong-ngomong soal ruang rindu, kalian percaya tentang keberadaan ruang rindu? Iya, ruang rindu… dimana konon walaupun si perindu tak bertemu langsung, namun di suatu tempat yang bernama ruang rindu, mereka bisa bertemu bermesraan saling melepas rindu. Sehingga kepedihan yang lama terpendam bisa terobati begitu rupa. Ruang rindu ada tidak yach…. karena kalau memang ada, saya ingin segera bertamasya ke sana sekarang juga. Karena kepedihan saya saat ini begitu membuncah ! Kerinduan saya sudah tak terperikan !!
Pagi tadi saya lihat di Televisi tentang penggusuran ribuan rumah warga yang berada di sapanjang jalan tol. Pemerintah DKI Jakarta tak menggubris kepedihan mereka dan tetep keukeuh bakal menggusur ‘perumahan mewah’ milik warga miskin itu. (anda paham kan maksud saya bikin miring itu tulisan? Rumah yang dimaksud sebenarnya hanyalah gubuk reot dan tumpukan kardus!) Huh, alih-alih memberikan rumah yang layak, eh ini sudah miskin dipelorotin lagi. Lalu kemana lagi mereka harus pergi… bila senantiasa diusir!
Saya geregetan. Mana katanya Pemerintah yang berupaya mensejahterakan rakyatnya?! Mana?
Maka di saat kepedihan hati yang begitu bergelora ini, mendadak saya ingin lekas menuju ruang rindu…
Di ruang rindu saya ingin ketemu sama Bang Umar bin Khattab!
Saya akan mengadu pada beliau, sebagaimana dulu seorang Yahudi tua pernah menghadap pada beliau. ”Woi, bang Umar! Lihat tuh atas nama keindahan kota, ribuan rumah warga miskin di DKI Jakarta mau digusur paksa!”
Wajah bang Umar pun mengerut dan memerah. Giginya menggeretak. Diambilnya sebuah tulang dan digoresnya keras dengan sebilah pedangnya.
”Ini, serahkan pada Gubernur DKI Jakarta, berlaku luruslah. Ingatlah kamu akan menjadi tulang belulang. Kalau tidak berlaku lurus, maka aku yang akan meluruskanmu dengan pedangku!” tegas Bang Umar.
”Ahhh… Bang Umar! Satu tulang mana cukup. Masalahnya yang perlu dikirimi tulang ini ada ribuan oknum. Rakyat yang digusur ribuan. Dan bukan sekali saja… kejadian ini sudah jadi hal yang biasa….” protes saya.
”Apaa!!!” Bang Umar terhenyak tak percaya.
Pagi tadi pula saya lihat berita di layar tivi tentang penyiksaan kembali TKW di Malaysia, Pemerintah hanya diam melihat warga-warga muslimnya dianiaya, bahkan ada yang sampai mati terbunuh.
Aargghhh…. apa pula ini! Bukankah kata Allah nyawa seorang muslim begitu berarti. Bahkan lebih berarti daripada isi bumi.
Saya terperangah. Kembali saya berlari ke ruang rindu. Saya seting pertemuan dengan Khalifah Mu’tashim billah.
“Khalifah… khalifah…. di sana khalifah… kembali muslim dianiaya!” teriak saya sambil berlari ke arah beliau.
Beliau terkejut. Beliau yang dulunya, karena mendengar seorang muslimah dilucuti kehormatannya oleh tentara romawi dan langsung mengerahkan pasukan untuk menyerbu Romawi yang panjangnya nauzubillah…. ketika ujung depan pasukan sampai ke tempat perang, ujung belakang masih ada di dalam kota.
”Oke! Panggil para panglima! Kita segera mobilisasi pasukan. Kali ini mesti lebih banyak…. eh tapi dimana tempatnya… dan siapa pelakunya? Romawi lagi? Atau Persia?” tanya Khalifah Mu’tashim
”Mmm…. bukan Khalifah…. di Malaysia.… negri yang penduduknya juga muslim. Pemerintahnya juga muslim….” sahut saya sambil menggaruk-garuk kepala.
Brak! Khalifah Mu’tashim terduduk mendadak tak percaya.
Saya kemudian baca koran hari ini. Harga-harga naik lagi. sementara di beberapa desa terpaksa memakan nasi aking.
Gubrak! Aduh, karena tergesa berlari, saya sampai kesandung. Saya sudah tak tahan. Saya mau segera ke ruang rindu. Saya ingin ketemu dengan Khalifah Umar bin Abdul Azis!
Beberapa saat kemudian, di ruang rindu…
Khalifah Umar bin Abdul Azis menyambut sayadengan ramah di rumahnya yang teramat sederhana.
”Sebentar… ini masalah umat atau masalah pribadi…. soalnya kalau masalah pribadi kita tidak akan memakai lampu yang didanai dari uang umat ini” Tahan beliau sebelum saya memulai pembicaraan.
“Masalah umat, mas khalifah! Ini lho…….” saya langsung menunjukkan Koran yang tadi saya baca.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz menangis deras. Beliau terpana, di pemerintahan, beliau pernah memacahkan rekor dimana tak seorangpun ditemukan warga miskin yang hidup di daerah kekhilafahan. Sekarang…..
”Panggil Yahya, petugas amil zakatku…. suruh dia menguras baitul maal. Dan segera selesaikan masalah kemiskinan ini. Aku tak akan pernah bisa tidur nyenyak sebelum masalah ini terselesaikan.” titah beliau masih dalam keadaan terisak.
Saya tercenung.
Palestina kembali membara. Daerah-daerah umat kembali dicaplok oleh zionis Israel la’natullah. Palestina ini….. ini tanah umat. Tak berhak diinjak oleh Yahudi keparat itu. Saya setting Ruang Rindu, kali ini tujuan saya Sultan Abdul Hamid II, sultan yang termasuk deretan khalifah terakhir di masa Kekhilafahan Turki.
”Sultan….Saya…” saya terdiam sejenak. Muka beliau tampak merah padam. Entah apa yang beliau hadapi. Saya tunggu sampai kemarahan beliau mereda.
”Oh, maaf…” kata Sultan setelah menyadari kehadiran saya. ”barusan tadi ada seorang Yahudi bernama Theodore Hertzl memohon kepadaku untuk memberikan tanah Palestina untuk pemukiman Yahudi” Lanjutnya.
”Lalu apa jawab Sultan?”
”Demi Allah! selama aku masih hidup, aku tak akan membiarkan sejengkal pun tanah Palestina di tangan mereka. Tanah itu bukan milikku… tanah itu milik umat!” jawab beliau.
”Sultan, sayang sekali….” sahut saya. ”Sepeninggal sultan, dan setelah kekhilafahan runtuh, Kaum Yahudi telah merampas dengan paksa tanah suci itu. Darah kaum muslim membanjir di sana. Sementara Pemerintah negri-negri muslim tak bergeming, dan….” kata-kata saya terhenti. Saya lihat muka Sultan kembali merah padam. Hii.. mending saya kabur… saya set ruang rindu segera ke tempat lain…
”Hei, anak muda. Jangan menghalangi jalan kami!” teriak seseorang mengejutkan saya.
Saya buru-buru minggir. Sosok tegap berwibawa di atas kuda itu…. tak salah lagi. Pasti ini Panglima Salahuddin!
”Panglima Salahuddin kan….?” tanya saya.
”Maaf, anak muda. Tapi aku dan pasukanku mau bergegas menuju Baitul Maqdis untuk membebaskan tanah itu dari kaum salibis yang merenggutnya. Tak akan kubiarkan mereka mengotori tanah suci itu. Allahu Akbar!” serunya yang disahut dengan takbir serupa oleh segenap pasukannya.
”Oii… Panglima…. tunggu dong….. saya ingin bicara sebentar…!” Tapi terlambat, pasukan itu telah melaju dengan cepat. Huuhh
Kembali ke habitat.
Palestina masih terjajah.
Negri muslim yang lainnya terobarak-abrik terpecah-pecah.
Penguasa-penguasa bermuka manis dengan rakyat sementara tangannya menindas dengan zalim.
Rakyat terbebani hutang. Kemiskinan merajalela. Harta rakyat dikuras habis.
Aqidah tercerabut, syariat dipinggirkan. Hukum kufur merajalela.
Akhhh… saya tak betah hidup di sini! Saya ingin di ruang rindu saja! Saat kedamaian di bawah naungan islam menaungi semesta. Saat islam meraja, saat bumi menjadi hamparan sajadah, saat ukhuwah terpelihara, saat taqwa mengakar melangit. Saya ingin di sana saja !
Jalanku hampa
Dan kusentuh dia
Terasa hangat oh di dalam hati
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu...
Sabtu, 01 Oktober 2011
Duduklah Bersamaku
Tak mungkin juga ku berharap..
Hari bagitu cepat namun aku takut terlambat..
Mungkin cepat, tapi bagiku semua lambat..
Mungkin sulit?
Mungkin tak ada cerita seperti dulu lagi..
Hanya pertemuan yang kita tunggu untuk menumpahkan segalanya..
Namun.. tak segan kah waktu memberi sedikitpun kepada kami?
Mungkin nanti, tapi kapan?
Apakah nanti jika kesabaran ini tak sanggup lagi bersabar?
Berilah kami.. sedikit saja..
Entah berapa lama, namun itu sangat berharga..
Sebentar kah? Lama kah?
Ga penting ! yang penting kami bisa bertemu..
Duduklah disini, disampingku..
Ingin sekali aku cerita betapa membosankannya hari yang telah aku lalui..
Ingin sekali aku tumpahkan semua geramku atas kehidupan yang masih menyisakan kecewa.
Mau kah kamu? Sebentar saja..
Kau tak perlu membalasnya dengan kata-kata..
Kau bahkan tak perlu menatapku bicara..
Duduklah disampingku dan aku akan amat sangat gembira..
Sebentar saja..
Aku sedang nelangsa, Aku sedang tersesat, Aku sedang gulana, Aku sedang gundah
Aku sedang lelah, Aku sedang terapung, Aku sedang amat sangat merana, merana hati yang sedang kecewa..
Aku sedang terhisap kabut hitam putih hingga hanya dirimu saja yang ingin kulihat bersinar seperti pelita…
Duduklah disini, disampingku..
Ingin ku kamu merasakan apa yang ingin ku berikan..
Ingin ku kamu mengartikan apa yang ingin ku katakan..
Ingin ku kamu mengatakan apa yang ingin ku perbuat..
Duduklah disini, disampingku..
Ingin ku merasakan apa yang ingin ku rasakan..
Ingin ku mengartikan apa yang ingin ku artikan..
Inginku mengatakan apa yang ingin ku katakan..
Semua dari keterbatasan ku yang mungkin membuat dirimu berantakan..
Duduklah disini, disampingku..
Aku sedang tak ingin merasa sendiri..